Rabu, 04 Mei 2011

SIFAT, TEKNIK DAN RAGAM ALAT EVALUASI PENDIDIKAN


SIFAT, TEKNIK DAN RAGAM ALAT EVALUASI PENDIDIKAN


A.SIFAT –SIFAT EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

Sifat-sifat evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut (Muhaimin, 1993: 283)
a.Kuantitatif, yaitu hasil evaluasi yang diberikan skor atau nilai dalam bentuk angka, misalnya : 50, 79, 100.
b.Kualitatif, yaitu hasil evaluasi yang diberikan dalam bentuk pernyataan verbal, misalnya : memuaskan, baik, cukup dan kurang.

B. TEKNIK EVALUASI PENDIDIKAN

Teknik yang dapat digunakan dalam evaluasi pendidikan Islam adalah :
1.Teknik tes :
Teknik tes adalah tenik yang digunakan untuk menilai kemampuan anak didik, meliputi pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil belajar, serta bakat khusus dan inteligensinya.
Teknik ini terdiri atas :
a. Uraian (essay test) terdiri dari :
1. Uraian bebas (free essay)
2. Uraian terbatas (limited essay)
b. Objective test
1. Betul –salah (true-false)
2. Pilihan ganda (multiple choice)
3. Menjodohkan (matching)
4.  Isian (complition)
5.  Jawaban singkat (short answer)
c.  Bentuk tes lain :
1.  Bentuk ikhtisar
2.  Bentuk laporan
3. Bentuk khusus dalam pelajaran bahasa seperti , ta’bir syafawi (oral test) dan ta’bir tahriri (written test).
2.Non tes :
Teknik yang digunakan untuk menilai karakteristik lainnya, misalnya minat, sikap, kepribadian siswa dan sebagainya.  Teknik ini meliputi :
a. Observasi terkontrol
b. Wawancara/interview, rating scale
c. Inventory
d. Questionnaire
e. Anecdotal accounts
Jenis evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam adalah :
1. Tes tertulis (written test)
2. Tes lisan (oral test)
3. Test perbuatan (performance test)
Aspek kognitif biasanya menggunakan tes tertulis maupun lisan, sedangkan aspek psikomotorik menggunakan tes perbuatan. (Zuhairini, 1981: 158).

C. Ragam Alat Evaluasi
Muhibbinsyah (2003 : 201) menggolongkan teknik evaluasi ke dalam pembagian ragam alat evaluasi. Menurutnya secara garis besar ragam alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu :
1). Bentuk objektif; 2). Bentuk subjektif.  Bentuk objektif biasanya diwujudkan dalam bentuk-bentuk alternatif jawaban, pengisian titik-titik dan pencocokan satu pernyataan dengan pernyataan lainnya.
a. Bentuk Objektif .
Bentuk ini lazim disebut tes objektif, yakni tes yang jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam yang termasuk dalam evaluasi ragam objektif ini.
1.Tes Benar- Salah
Tes ini merupakan alat evaluasi yang paling bersahaja baik dalam hal susunan item-itemnya maupun dalam hal cara menjawabnya. Soal-soal dalam tes ini berbentuk pernyataan yang pilihan jawabannya hanya dua macam, yakni “B” jika pernyataan tersebut benar dan “S” jika salah. Apabila soal-soalnya disusun dalam bentuk pertanyaan, biasanya alternatif jawaban yang harus dipilih adalah “ ya” atau “ tidak”.
Dalam dunia pendidikan modern, tes semacam itu sudah lama ditinggalkan karena dua alasan :
1.Tes “ B-S” tidak menghargai kreativitas akal siswa karena mereka hanya didorong untuk memilih sekenanya salah satu dari dua alternatif  yang ada.
2.Tes “B-S” dalam beberapa segi tertentu dianggap sangat rendah tingkat reliabilitasnya. Meskipun demikian, tes “ B-S “ ini juga memiliki manfaat yang tidak dapat diremehkan antara lain:
1.Tes “ B-S “ ini mendorong siswa /peserta didik untuk berpikir kritis dan berhati-hati dalam menjawab, karena biasanya poin nilai yang diberikan biasanya adalah satu yang berarti apabila salah memilih maka point nilainya akan hilang.
2.Tes “B-S “ ini memudahkan bagi pendidik /guru untuk memeriksa jawaban dengan cepat karena jawaban yang dirancang juga pasti.
3.Dalam merancang tes ini sebenarnya tidak mudah, seorang pendidik/guru harus benar benar memikirkan soal-soal yang sesuai dengan validitas dan reliabilitasnya.
3.Tes Pilihan Berganda
Item-item (butir-butir soal) dalam tes pilihan berganda (multiple choice) biasanya berupa pertanyaan atau pernyataan yang dapat dijawab dengan memilih salah satu dari empat atau lima alternatif jawaban yang mengiringi setiap soal. Cara yang sangat lazim dilakukan adalah dengan memberikan tanda silang(X) pada salah satu huruf, a, b,c,d atau e yang menandai alternatif jawaban yang benar.
Contoh :
Rukun Iman terdiri dari ……. Perkara :
a. dua          b. tiga.         c. empat          d. lima            e. enam
Pada zaman modern sekarang ini, dunia pendidikan khususnya di Barat sudah mulai meninggalkan tes pilihan  berganda kecuali untuk keperluan-keperluan di luar pengukuran prestasi belajar.  Alasan-alasan mereka meninggalkan jenis tes ini ialah :
1.Kurang mendorong kreativitas ranah cipta dan karsa siswa, karena mereka diminta berspekulasi yakni menebak dan menyilang secara untung-untungan.
2.Sering terdapat dua jawaban (di antara empat atau lima alternatif) yang identik atau sangat mirip, sehingga terkesan kurang diskriminatif.
3. Sering terdapat satu jawaban yang sangat mencolok kebenarannya, sehingga jawaban-jawaban lainnya terlalu gampang untuk ditinggalkan. Namun demikian, sampai batas tertentu tes pilihan berganda masih dipakai untuk mengevaluasi prestasi belajar siswa dengan catatan , penyusunannya dilakukan secara ekstra cermat. Dalam hal ini, guru seharusnya berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari kelemahan kelemahan di atas.
4.Tes Pencocokan (Menjodohkan)
Tes pencocokan (matching test) disusun dalam dua daftar yang masing-masing memuat kata, istilah atau kalimat yang diletakkan bersebelahan. Tugas siswa dalam menjawab item item soal ialah mencari pasangan yang selaras antara kalimat atau istilah yang ada pada daftar A (berisi item-item yang ditandai dengan nomor urut
1 sampai 10 dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan) dengan daftar B terdiri atas item-item yang ditandai huruf a,b,c dan seterusnya. Untuk menjaga mutu reliabilitas dan validitasnya, salah satu daftar instrumen evaluasi di atas sebaiknya ditambah sekitar 10% sampai 20%.  Dengan demikian, kemungkinan siswa menebak semaunya pada saat mengerjakan satu atau dua soal yang terakhir dapat dihindari.  Agar lebih jelas, berikut ini penyusunannya disajikan dalam sebuah contoh :
Petunjuk :
“ Isilah titik-titik yang terdapat pada daftar A dengan menuliskan salah satu huruf dari daftar B yang cocok/benar. Nomor 1 yang sudah terisi adalah contoh cara mengerjakan soal selanjutnya.
No  Daftar A                                                                Daftar B
1  Al-Fatihah…..                                                    a. Menyekutukan Allah
2  Al-Furqan………                                                   b. Beragama Yahudi atau Nasrani
3  Arafah………….                                       c. Wajib dilaksanakan dibulan Ramadan
4  Ilmu Pengetahuan…..                         d. Wajib ditunaikan bagi orang Muslim yang mampu
5  Kafir Kitabi……..                                   e. Beragama Hindu atau Budha
6  Murtad ………….                                     f. Wajib dituntut oleh setiap Muslim
7  Musyrik………….                                    g.  Nama lain bulanRamadhan
8 Puasa………..                                           h. Tempat wukuf jama’ahhaji
9 Syahadatain………                                i. Bacaan wajib dalamsholat
10 Zakat………..                                           j. Keluar dari Islam

4. Tes Isian
Alat tes isian biasanya berbentuk cerita atau karangan pendek, yang pada bagianbagian yang memuat istilah atau nama tertentu dikosongkan. Tugas siswadalam hal ini berpikir untuk menemukan kata-kata yang relevan dengan karangan tersebut. Lalu kata-kata itu dituliskan pada titik-titik atau ruang kosong yang terdapatpada badan karangan tadi. Untuk memperjelas uraian mengenai tes isian itu, selanjutnya disajikan contoh paling sederhana di bawah ini.
Contoh :
“ Isilah titik-titik di bawah ini dengan kata-kata yang benar!
Atas berkat rahmat……… Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan …………supaya berkehidupan kebangsaan yang…………..,maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini……………….”

5. Tes Melengkapi
Cara menyelesaikan tes melengkapi pada dasarnya sama dengan menyelesaikan tes isian. Perbedaannya terletak pada kalimat-kalimat yang digunakan sebagai instrumen. Dalam tes melengkapi, kalimat-kalimat itu tidak disusun dalam bentuk karangan atau cerita pendek tetapi dalam bentuk yang masing-masing berdiri sendiri.
Sebagai contoh, berikut ini disajikan salinan teks proklamasi dalam ejaan aslinya.
Petunjuk !
Isilah titik-titik yang ada pada setiap kalimat du bawah ini dengan kata-kata yang sesuai!”
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan…………… Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l…………. dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat singkatnja.…….., hari 17 boelan 8tahoen’45 Atas nama ………Indonesia…………/Hatta
b. Bentuk Subyektif
Alat evaluasi yang berbentuk tes subyektif adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak dinilai dengan skor atau angka pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi obyektif. Hal ini disebabkan banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrumen evaluasi mengambil bentuk essay examination, yakni soal ujian mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas. Banyak ahli menganggap evaluasi subyektif itu sukar sekali dipercaya reliabilitas dan validitasnya, karena subyektivitas guru penilainya lebih menonjol (Suryabrata, 1984 : 67). Contoh; sebuah esai jawaban yang hari ini diberi nilai 70, mungkin dua minggu yang akan datang, jika diperiksa lagi akan diberi nilai 60 atau 80. Namun demikian, menghindari pemakaian tes subyektif (essay test) hanya karena alasan subyektivitas guru adalah suatu tindakan yang berlawanan dengan perkembangan modrenisasi pendidikan. Tes esai ini lebih populer di manamana khususnya di negara-negara maju, mengingat keunggulannya yang sulit ditandingi terutama oleh instrumen tes B-S dan pilihan berganda yang sering mendorong siswa bermain tebak-tebakan atau “menghitung kancing” itu. Ada beberapa keunggulan tes esai yang secara implisit diakui juga oleh Suryabrata (1984 :68), yakni bahwa :
a. Tes esai tidak hanya mampu mengungkapkan materi hasil jawaban siswa tetapi juga cara atau jalan yang ditempuh untuk memperoleh jawaban itu.
b. Tes esai dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif, kritis, bebas, mandiri, tetapi tanpa melupakan tanggung jawab. Mengenai sikap subyektif guru penilai tidak perlu menjadi halangan penggunaan tes ini, sebab seperti objektivitas, subjektivitas juga ada batasnya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita mencetak guru profesional dalam arti luas dan komprehensif termasuk dalam hal evaluasi prestasi belajar para siswanya.

D. SYARAT ALAT EVALUASI

Langkah pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa adalah menyusun alat evaluasi (test instrument) yang sesuai dengan kebutuhan dalam arti tidak menyimpang dari indikator dan jenis prestasi yang diharapkan. Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam persfektif psikologi belajar (Thepsychology of learning) melihat dua macam, yakni : 1) reliabilitas; 2) validitas (Butler, 1990 :98). Persyaratan lainnya adalah objektif, diskriminatif dan sebagainya yang dikemukakan oleh kebanyakan penyusun buku psikologi pendidikan dan buku ilmu-lmu kependidikan pada umumnya. Reliabilitas secara sederhana berarti tahan uji atau dapat dipercaya. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel atau tahan uji, apabila memiliki konsistensi (ketetapan) dan keajegan hasil. Artinya apabila alat itu diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan prestasi “ X “, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “ X “ itu dapat pula dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama pada waktu yang lain. Validitas pada prinsipnya berarti keabsahan atau kebenaran. Sebuah alat evaluasi dipandang valid (absah) apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Contohnya, apabila sebuah alat evaluasi bertujuan mengukur prestasi belajar matematika, maka item-item dalam alat itu hendaknya hanya direkayasa untuk mengukur kemampuan matematis para siswa. Kemampuan kemampuan lainnya yang tidak relevan, seperti kemampuan dalam bidang bahasa, IPS dan sebagainya tidak perlu diukur oleh instrumen evaluasi matematika tersebut.

Rabu, 20 April 2011

Prinsip dan Syarta Evaluasi Pend.Islam


BAB IV
PRINSIP-PRINSIP DAN SYARAT-SYARAT EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

A.PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PENDIDIKAN.

Prinsip-prinsip evaluasi pendidikan Islam sebenarnya sama dengan prinsip-prinsip pendidikanpada umumnya. Hanya saja, prinsip evaluasi pendidikan Islam dilandasi oleh nilai-nilai universal ajaran Islam. Adapun prinsip-prinsip evaluasi yang dimaksud adalah :
1. Prinsip kesinambungan (kontinuitas), evaluasi ini tidak hanya dilakukan setahun sekali, atau persemester, tetapi dilakukan secara terus-menerus, mulai dari proses belajar mengajar sambil memperhatikan keadaan anak didiknya, hingga anak didik tersebut tamat dari lembaga sekolah. Dalam ajaran Islam sangat diperhatikan prinsip kontinuitas, karena dengan berpegang pada prinsip ini, keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil sesuai dengan surat al-Fushshilat ayat 30 :
إِنّ الّذِينَ قَالُوا رَبّنَا الُّ ثُمّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَئِكَةُ أَلّ تَخَافُوا وَلَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنّةِ الّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhya orang-orang yang mengatakan Tuhan Kami adalah Allah kemudian mereka berpegang teguh dan tetap istiqomah maka Malaikat akan turun danmengatakan janganlah Kamu takut dan bimbang dan berilah kabar gembira dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan buat kamu.”.
Prinsip evaluasi ini diperlukan atas pemikiran bahwa pemberian materi pendidikan pada peserta didik tidak sekaligus, melainkan bertahap dan berproses seiring dengan kemampuan dan perkembangan psikofisik peserta didik. Oleh karena itu, proses evaluasi perlu mengikuti tahapan-tahapantersebut, walaupun masing-masing tahapan tidak dapat dipisahkan. Prinsip ini diisyaratkan dalam Alquran mengenai kasus keharaman khamar dansistem riba yang proses larangannya dilakukan secara betahap namun terus menerus. (Ramayulis, 1994 : 298).
2. Prinsip menyeluruh (komprehensif)
Prinsip yang melihat semua aspek, meliputi kepribadian, ketajaman hapalan, pemahaman, ketulusan, kerajinan, sikap kerjasama, tanggung jawab dan sebagainya, sesuai dengan Alquran dalam surat Al-zalzalah ayat 7-8 :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرّةٍ شَرّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang berbuat kebaikan sebesar biji dzarrah niscaya akan memperoleh balasan, dan barangsiapa yang berbuat keburukan sebesar biji dzarrah niscaya juga akan memperoleh balasan.”
Prinsip evaluasi ini dilakukan pada semua aspek-aspek kepribadian peserta didik, yaitu aspek intelegensi,  pemahaman,  sikap, kedisiplinan, tanggung jawab,  pengalaman ilmu yang diperoleh (baik pengejawantahannya sebagai hamba Allah, kalifatullah dan waratsatul anbiya’ dan sebagainya. Selain itu, prinsip menyeluruh berlaku untuk seluruh materi pendidikan agama Islam.
3. Prinsip objektivitas
Dalam mengevaluasi berdasarkan kenyataan yang sebenarnya tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional dan irasional. (Rusyan, 1989 : 211). Evaluasi ini dilakukan secara adil, bukan subjektif. Artinya pelaksanaan evaluasi berdasarkan keadaan sesungguhnya dan tidak dicampuri oleh halhal yang bersifat emosional dan irasional. Sikap ini secara tegas dikatakan oleh Rasulullah Saw dengan melarang seorang hakim yang sedang marah untuk memutuskan perkara, sebab hakim semacam ini pikirannya diliputi emosi yang mengakibatkan putusannya tidak objektif dan rasional. Prinsip ini juga ditegaskan oleh dalam surat al- Maidah ayat 8 bahwa seseorang itu harus berlaku adil dalam mengevaluasi sesuatu jangan karena kebencian menjadikan ketidak objektifan evaluasi yang dilakukan :
يَاأَيّهَا الّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوّامِينَ لِِّ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَ يَجْرِمَنّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتّقْوَى وَاتّقُوا الَّ إِنّ الَّ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“ Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan dan menjadi saksi bagi keadilan dan janganlah karena kebencianmu kepada suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah karena adil itu akan mendekatkan kamu kepada ketaqwaan. Bertaqwalah kepada Allah , sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu perbuat.”
Contoh dari prinsip ini sebagaimana yang ditegaskan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya : Andaikata Fatimah binti Muhammad itu mencuri niscaya aku tidak segan-segan memotong kedua tangannya.” Demikian pula halnya Umar bin Khattab yang mencambuk anaknya karena ia berbuat zina. Prinsip ini dapat diterapkan bila penyelenggara pendidikan mempunyai sifat-sifat umum , misalnya sifat siddiq (benar atau jujur), ikhlas, amanah, ta’awun (saling tolong -menolong), ramah dan sebagainya.

B. SYARAT-SYARAT EVALUASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Syarat-syarat yang dapat digunakan dalam evaluasi pendidikan Islam adalah :
1.Validity, yaitu pelaksanaan tes harus berdasarkan hal-hal yang seharusnya dievaluasi,  yang meliputi seluruh bidang tertentu yang diingini dan diselidiki sehingga tidak hanya mencakup satu bidang saja. Soal soal tes harus memberi gambaran keseluruhan (representatif) dari kesanggupan anak mengenai bidang itu.
2.Reliable, yaitu tes tersebut dapat dipercayai yakni dengan memberikan ketelitian dan keterangan tentang kesanggupan anak didik sesungguhnya, soal yang ditampilkan tidak membawa tafsiran yang bermacam-macam sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik.
3.Efisiensi, yaitu tes yang dilakukan merupakan tes yang mudah administrasinya, penilaian dan interpretasinya (penafsirannya). (Nasution, 1982 : 169). Selain itu, evaluasi yang dilaksanakan harus secara cermat dan tepat pada sasarannya. Sesuai dengan Alquran surat Al- Insyiqoq (84) ayat 8 :  فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“ Maka dia akan dievaluasi dengan pengevaluasian yang mudah.”
4. Ta’abbudiyyah dan ikhlas, yaitu evaluasi yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan pengabdian kepada Allah Swt.  Apabila prinsip ini dilakukan, maka upaya evaluasi akan membuahkan kesan husnu zhann (prasangka baik) terjadi perbaikan tingkah laku secara positif dan menutupi rahasia-rahasia buruk pada diri seseorang.

Senin, 04 April 2011

Wawasan Dalam Evaluasi Pendidikan.(Soal-Soal)


Latiahan Intlektulitas Mahasiswa dalam Memahami Materi Perkuliahan Ev.Pend.Islam.

1. Ada beberapa keunggulan dan kelemahan tes esai yang secara implisit banyak digunakan oleh para tenaga  
    pendidik di sekolah atau madrasah. Sebutkan keunggulan dan kelemahan tersebut.
2.Buatlah tiga buah soal mata pelajaran apa saja yang setiap soalnya mengukur kemampuan siswa di bidang 
    kognitif pada tingkatan pemahaman, aplikasi dan analisis!
3.Sebutkan Jenis-Jenis Penilaian dan Jelaskan
4.Apa yang anda ketahui tentang validitas tes dan reliabilitas tes serta Apa hubungan kedua konsep tersebut 
    (validitas tes dan reliabilitas tes) dengan evaluasi pendidikan?
5. Dalam melaksanakan evaluasi formatif, seorang pendidik perlu memperhatikan beberapa aspek evaluasi, 
     jelaskan!
6.Jelaskan Perbedaan  Mengetes, Menilai,Mengukur,Mengevaluasi.!

7.Pelaksanaan ujian nasional menuai protes dari berbagai pihak. Jika anda adalah pemegang kebijakan yang 
   berkompeten melaksanakan UN, apa yang akan anda lakukan untuk melaksanakan amanat PP no 19 di atas?

Pengertian,Fungsi dan Prosudure Ev.Pembelajra.


Pengertian, Fungsi dan Prosedur Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan
Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secaras sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran.
Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan atura-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran (measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan evaluasi.
Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan evaluasi pembelajarana dalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.
Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran
A. Jenis evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
1. Evaluasi diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
2. Evaluasi selektif
Evaluasi elektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
3. Evaluasi penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam
program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
4. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
5.  Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.
B. Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :
1. Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul  dalam perencanaan
2. Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi
yang digunakan untuk mencapai tujuan.
3. Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai  kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
4. Evaluasi hasil atau produk
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
5. Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yakni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.


C.Jenis evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran :

1. Evaluasi program pembelajaran
Evaluais yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran,
strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.
2. Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis
besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam  melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3. Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.
D. Jenis evaluasi berdasarkan objek dan subjek evaluasi
Berdasarkan objek :
1. Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
2. Evaluasi tnsformasi
Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain
materi, media, metode dan lain-lain.
3. Evaluasi output
Evaluasi Berdasarkan subjek :
1. Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
2. Evaluasi eksternal
3. Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat

Jumat, 25 Maret 2011

OBJEK DAN SISTEM EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM




OBJEK DAN SISTEM EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM


A.OBJEK EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

Objek evaluasi Pendidikan Islam dalam arti yang umum adalah peserta didik. Sementara dalam arti khusus adalah aspek-aspek tertentu yang terdapat pada peserta didik. Peserta didik disini sebenarnya bukan hanya sebagai objek evaluasi semata, tetapi juga sebagai subjek evaluasi. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan Islam dilakukan dengan dua cara yaitu : pertama, evaluasi atas diri sendiri ( selfevaluation /muhasabah), kedua, evaluasi terhadappeserta didik. (Ramayulis, 2009 : 237).
1. Evaluasi atas diri sendiri (self evaluation /muhasabah)
Seorang muslim termasuk peserta didik yang sadar dan baik adalah mereka yang sering mengevaluasi diri sendiri, baik mengenai kelebihan yang harus dipertahankan maupun kekurangan dan kelemahan yang perlu dibenahi, karena evaluasi diri sendiri bersifat lebih objektif. Hal ini ditegaskan dalam Alquran surat Adz-Dzariat (51) ayat 21 :     وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَ تُبْصِرُونَ
“ Dan pada diri kamu kamu sendiri maka mengapa kamu tidak mau melihat dan memikirkannya.”?
Umar bin Khattab pernah mengatakan hasibuanfusakum qabla an tuhasabu (evaluasilah diri kamu sendiri sebelum kamu mengevaluasi orang lain). Manusia dituntut untuk waspada dalam melakukan berbagai perbuatan karena semua perbuatan manusia tidak lepas dari evaluasi Allah serta dua malaikat sebagai supervisor dan evaluator yaitu Raqib dan ‘Atid berdasarkan surat Albaqarah (2) ayat 115 :  وَلِِّ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلّوا فَثَمّ وَجْهُ الِّ إِنّ الَّ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kepunyaan Allah Timur dan Barat maka dimanapun kamu menghadap maka disanalah wajahAllah sesungguhnya Allah Maha luas limpahan Rahmat dan Karunianya lagi Maha Mengetahui.”
Dan juga terdapat pada surat Qaf (50) ayat 18 :  مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“ Tidak ada satu perkataan yang dilafazkan melainkandisisinya terdapat malaikat Raqib dan ‘Atid yang siapmenuliskan segala perbuatannya.”
Hasil penilaian yang baik mendapatkan surga sedangkan hasil penilaian buruk mendapatkan neraka.
2.Evaluasi terhadap peserta didik Evaluasi ini harus disertai niat “ Amar Ma’rufNahi Munkar” yang bertujuan memperbaiki (ishlah)bagi tindakan orang lain, serta untuk terlaksananyasuatu tujuan pendidikan Islam sesuai dengan tuntunan Alquran dalam surat Al’Ashr (103): ayat 3 :
إِلّ الّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقّ وَتَوَاصَوْا بِالصّبْرِ
Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amalshalih saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Ada satu asumsi bahwa dalam kondisi tertentu, seseorang terkadang lepas kendali, sehingga ia melakukan tindakan tidak dalam kesadarannya yang hakiki, karena terpengaruh oleh emosi dan sifat subjektivitasnya. Pada saat inilah, orang lain mudah menilai dan mengevaluasi kegiatan tersebut, sedangkan pelaku sendiri tidak mengerti apakah tindakannya itu benar atau salah. Pengevaluasian dari orang lain (pendidik) dalam hal ini lebih bersifat komparabel, menilai anak didik secara jelas dan jawaban yang salah segera dibenarkan bukan dibiarkan berlarut-larut, sehingga anak didik tetap tenggelam dalam kebimbangan, kebodohan dan tidak dapat melangkah yang lebih maju. (Muhaimin, 1993 : 280).

B. ASPEK-ASPEK EVALUASI PENDIDIKAN

Aspek-aspek khusus yang menjadi sasaranevaluasi pendidikan Islam adalah perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta didik dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu;
1.Dilihat dari sudut tujuan umum pendidikan Islam
Tujuan umum pendidikan Islam adalah adanya taqarrub dan penyerahan mutlak peserta didik kepada Allah Swt. Evaluasi disini meliputi aspek:
a.Perkembangan ibadah peserta didik
b.Perkembangan pelaksanaan menjadi khalifah Allah di muka bumi
c.Perkembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
d.Perkembangan pemenuhan kewajiban hidup berupa kewajiban yang bersifat duniawi dan ukhrawi.
2. Dilihat dari sudut fungsi pendidikan Islam
Fungsi pendidikan adalah pengembangan potensi peserta didik, transinternalisasi nilai-nilai Islam, dan mempersiapkan segala kebutuhan masa depan peserta didik. Evaluasi disini meliputi aspek aspek:
a.Perkembangan pendayagunaan potensi-potensi peserta didik, misalnya potensi ijtihad,  jihad,  tajdid,  emosi, kognisi (cipta) dan konasi (karsa)
b.Perkembangan perolehan, pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai Islam
c.Perkembangan perolehan kelayakan hidup, baik hidup yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.
3. Dilihat dari sudut-sudut dimensi-dimensi kebutuhan hidup dalam pendidikan Islam. Dimensi-dimensi kebutuhan hidup manusia meliputi :
a.Berdasarkan kebutuhan asasi hidup manusia seperti kebutuhan primer(hajjah), sekunder (dharuriyah), pelengkap/tersier (tahsiniyyah).
b.Berdasarkan segi-segi yang terdapat pada psikopisik manusia, seperti segi jasmaniyyah (fisik), aqliyyah (akal), akhlaqiyyah (adab/perilaku), ijtimai’yyah (kemasyarakatan atau sosial), dan fannaniyyah (artistik/seni). Sementara itu aspek-aspek evaluasi meliputi :
a.Perkembangan peserta didik dalam memperoleh dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Perolehan dan pemenuhan kebutuhan ini didasarkan atas hirarkinya, misalnya perkembangan pemenuhan kebutuhan agama (li hifdz ad- din), jiwa (li hifdzan-nafs), akal (li hifdz al-‘aqal), keturunan (lihifdz an-nasl), harta dan kehormatan (li hifdzalamwalwa’irdh) bermuamalah dan sebagainya.
b.Perkembangan pendayagunaan dan optimalisasi potensi jasmani, intelegensi dan emosi agar peserta didik mampu memiliki kepribadian mulia, baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam dan kepada pencipta alam semesta raya Allah Swt.
4. Dilihat dari domain atau ranah yang terdapat pada diri peserta didik Taksonomi Bloom yang telah merakyat meliputi kognitif, afektif dan psikomotor hampir mendekati taksonomi dalam pendidikan Islam. Kedekatan tersebut dapat dilihat dari beberapa ciri, yaitu :
a. Aspek kognitif : berupa pengembangan pengetahuan agama termasuk di dalamnya fungsi ingatan dan kecerdasan. Di samping pembinaan sikap dan pertumbuhan keterampilan beragama, maka perlu sekali diketahui oleh pendidik adalah pemberian pelajaran agama kepada peserta didik. Pelajaran agama yang diberikannya kepada peserta didik tersebut hendaklah yang dapat dikuasai, dipatuhi, dianalisa dan dapat digunakan oleh peserta didik dalam situasi konkrit yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
b. Aspek afektif, berupa pembentukan sikap terhadap agama termasuk di dalmnya fungsi perasaan dan sikap. Tujuan utama dan pertama dalam pendidikan agama adalah pertumbuhan dan pengembangan sikap positif dan cinta kepada agama. Tujuan utama ini nantinya yang akan membuat anak menjadi orang dewasa yang hidup sesuai dengan ajaran agama, berakhlak dan beraktivitas sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Sikap ini nantinya yang akan dapat menjauhkan peserta didik dari berbagai godaan duniawi yang bertentangan dengan agama. Bahkan peserta didik akan menjadi pribadi tangguh dalam menghadapi segala persoalan dan kesukaran hidup dan bertahan dalam kondisi moral yang diridhoi oleh Allah Swt.
c. Aspek psikomotor berupa menumbuhkan keterampilan beragama, termasuk di dalamnya fungsi kehendak, kemauan dan tingkah laku. Keterampilan beragama harus ditumbuhkan dan dibina pada peserta didik meliputi keterampilan beragama dalam menghubungkannya dengan Tuhan dalam ibadah. Perlu diperhatikan penanaman keterampilan melakukan ibadah harus pula disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, dilakukan dengan latihan dan pembinaan secara berangsurangsur. Demikian pula terhadap keterampilan dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar.


C. SISTEM EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Sistem evaluasi yang dikembangkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya yang berimplikasi pedagogis sebagai berikut:
a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami sesuai dengan Alquran surat Albaqarah ayat 155 :
وَلَنَبْلُوَنّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الَْمْوَالِ وَالَْنْفُسِ وَالثّمَرَاتِ وَبَشّرِ الصّابِرِينَ
“ Dan benar-benar Kami uji kamu manusia dengan sesuatu berupa rasa takut, rasa lapar dan kekurangan harta serta hilangnya jiwa berupa kematian serta kekurangan buah-buahan semacam paceklik namun demikian berilah kabar gembira bagi orang orang yang sabar.”
b. Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah Saw kepada umatnya sesuai dengan Alquran surat an-Naml ayat 27 :
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ 
… Ini adalah limpahan Karunia Tuhanku untuk menguji apakah aku adalah orang yang bersyukur atau tidak atas nikmat pemberianNya.”
c. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah terhadap Nabi Ibrahim yang meyembelih Ismail putera yang dicintainya.
d. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan padanya, seperti pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asmaasma yang diajarkan kepadanya dihadapan para Malaikat.
e. Memberikan semacam tabsyir (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk.